Berbagai Mitos Seputar Madu… Apa Aja Yaa?

Dikalangan masyarakat seringkali beredar mitos. Padahal, kebanyakan anggapan masyarakat tersebut belum terbukti kebenaran nya. Salah satu mitos yang beredar di masyarakat yaitu mitos mengenai madu. 

Madu merupakan cairan alami yang umumnya berasa manis dan dihasilkan oleh lebah madu dari sari bunga tanaman (floral nektar) atau bagian lain dari tanaman (ekstra floral nektar) atau eksresi serangga (Gebremariam, 2014 ; Wulandari, 2017). Madu seringkali di konsumsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh sehingga pembahasan mengenai mitos madu perlu dikaji. Berikut penulis rangkum beberapa mitos mengenai madu yang tersebar di masyarakat :

1. Madu asli tidak dikerumuni semut

Kebanyakan orang mungkin sudah tidak asing lagi dengan mitos ini. Padahal sebenarnya wajar saja jika madu asli dikerumuni semut. Pasalnya, semut memang menyukai produk yang mengandung gula sedangkan madu sendiri mengandung gula atau yang disebut dengan sukrosa. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Saepudin, dkk (2014) bahwa madu dapat dikerumuni semut dikarenakan madu mengandung sukrosa. Adapun banyak atau sedikitnya semut yang mengerumuni madu tergantung dari jenis semut dan jenis madu tersebut.

2. Madu yang sudah mengkristal tidak dapat diminum

Dasarnya, madu yang mengkristal masih dapat dikonsumsi. Walaupun bentuk madu berubah, akan tetapi kualitas dan nutrisi madu tidak hilang. Menurut Adalina (2017) menyatakan bahwa pengkristalan madu disebabkan oleh kandungan gula dalam madu yaitu berupa glukosa dan fruktosa. Semakin tinggi glukosa maka madu semakin cepat mengkristal sedangkan semakin tinggi kandungan fruktosa pada madu maka madu semakin lambat mengristal. Proses pengkristalan madu oleh glukosa yang berubah menjadi monohidrat. 

3. Madu tidak dapat basi/ rusak

Sebenarnya anggapan ini bisa dibilang benar karena madu tidak memiliki tanggal kadaluwarsa karena madu memiliki rata-rata pH 3,9 yang menandakan madu bersifat asam. Selain itu kandungan gula alami pada madu dapat mempertahankan daya simpan madu. Akan tetapi lain halnya jika madu sudah terkontaminasi oleh mikroba asing baik selama proses produksi atau penyimpanan madu yang tidak higienis. Dikutip dari hellosehat.com madu dapat rusak jika sudah terkontaminasi oleh spora neurotoxin C. botulinum. Kemudian madu juga dapat basi jika cara penyimpanan nya salah. Hal ini ditandai dengan dengan madu terlihat berbusa atau berair. Adapun cara penyimpanan madu agar tahan lama yaitu madu disimpan dalam wadah kedap udara yang tertutup ratap. Disimpan ditempat yang sejuk dan kering pada suhu -10°C hingga 20°C. Madu jangan dibiarkan dalam keadaan terbuka sehingga terpapar oleh lingkungan luar dan dapat meningkatkan risiko kontaminasi bakeri dari udara sekitar. Selain itu, madu yang dibiarkan terbuka  lama dapat meningkatkan kadar air pada madu sehingga terfermenasi dan cepat basi.

4. Madu murni tidak beku

Kenyataannya pendapat ini pun belum tentu kebenaran nya karena madu mengandung kadar air dan gula. Menurut Wulandari (2017) menyatakan bahwa kadar air madu di Indonesia tinggi disebabkan kelembaban relatif (Rh) udara di Indonesia berkisar 60% hingga 90%, yang menghasilkan kadar air madu sekitar 18,3% sampai 33,1% sehingga ketika madu dimasukkan ke dalam lemari es yang suhu nya  dibawah -5°C menyebabkan madu mengalami pembekuan/ mengrkistal. Selain kadar air, kadar gula yang terkandung pada madu juga menyebabkan madu mengalami kristalisasi.

5. Madu murni dapat mematangkan kuning telur

Dikutip dari e-jurnal.com, madu tidak dapat mematangkan kuning telur. Madu yang terfermentasi menyebabkan perubahan dari ragi yang ada di madu menjadi etanol/ alkohol atau madu yang rusak atau kualitas nya turun sehingga madu bersifat panas dan dapat menggumpalkan kuning telur yang seolah-olah matang.

Itulah sederetan mitos-mitos mengenai madu. Semoga bermanfaat bagi Sobat Imago. Bila Sobat Imago ingin membeli produk madu murni maupun madu yang diracik dengan herbal pilihan, kini sudah hadir produk madu Imago Raw Honey yang  keasliannya sudah teruji lab dan dilengkapi sertifikat.

artikel ditulis oleh : Ainun Mardiah Nasution, Mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan, Universitas Djuanda Bogor / Program Magang IMAGO

Daftar Pustaka

Adalina, Y. 2017. Kualitas mau putih asal provinsi Nusa Tenggara Barat. Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia. 3(2) : 189 – 193.

e-jurnal.com. https://www.e-jurnal.com/2013/12/mitos-mitos-seputar-madu-di-masyarakat.html?m=1 diakses pada 30 Juli 2021

Hellosehat.com. https://www.google.com/amp/s/hellosehat.com/nutrisi/tips-makan-sehat/apakah-madu-bisa-basi/%3amf=1 diakses pada 30 Juli 2021

Realhealthandwellness.blogspot.com.http://realhealthandwellness.blogspot.com/2011/05/amazing-healing-proper-of-raw.html?=1 diakses pada 31 Juli 2021

Saepudin, R., dkk. 2014. Kualitas madu yang beredar di Kota Bengkulu berdasarkan penilaian konsumen dan uji secara empirik. Jurnal Sains Peternakan Indonesia. 9(1) : 30 – 40. 

Wulandari, D.D. 2017. Kualitas madu (keasaman, kadar air, dan kadar gula pereduksi) berdasarkan perbedaan suhu penyimpanan. Jurnal Kimia Riset. 2(1) : 16 – 22.

Leave a Reply

Your email address will not be published.